Fenomena Overpraising dan Dampaknya pada Anak
Dalam beberapa dekade terakhir, pendekatan pengasuhan anak mengalami perubahan signifikan. Banyak orang tua modern cenderung memberikan pujian berlebihan kepada anak sebagai bentuk dorongan. Pujian ini sering dimaksudkan untuk meningkatkan rasa percaya diri dan semangat anak dalam berkembang.
Namun, bila tidak diimbangi dengan batasan dan penanaman nilai realistis, pujian yang terlalu sering bisa berdampak sebaliknya. Overpraising berisiko membentuk kepribadian yang terlalu fokus pada diri sendiri, atau yang dalam istilah klinis disebut narcissistic personality disorder (NPD).
Kepribadian narsistik bukan sekadar sifat suka memuji diri atau mencari perhatian. NPD adalah gangguan psikologis yang kompleks, melibatkan kebutuhan konstan akan kekaguman serta ketidakmampuan membentuk empati terhadap orang lain.
Penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak-anak yang terlalu sering diberi pujian atas hal-hal kecil dapat berkembang menjadi individu dengan ekspektasi tinggi akan pengakuan sosial. Alih-alih menjadi pribadi percaya diri, mereka justru rentan mengalami krisis harga diri saat tidak mendapatkan validasi.
Psikolog anak menekankan bahwa pengasuhan berbasis validasi eksternal harus seimbang dengan penguatan internal. Artinya, anak perlu diajarkan untuk menilai kemajuan dirinya secara objektif. Mereka harus memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa sering mereka dipuji, melainkan oleh proses dan konsistensi dalam berperilaku.
Konsep Pujian Sehat dan Relevansi Psikologisnya
Pujian Berlebihan Bukan Selalu Dorongan Positif
Banyak orang tua memberikan pujian dengan harapan membangun rasa aman dan keberanian anak. Namun, pujian yang tidak realistis justru bisa membentuk ilusi kehebatan yang rapuh.
Anak akan mengembangkan pandangan bahwa mereka selalu harus menjadi pusat perhatian atau paling unggul untuk merasa berarti. Ini berisiko membentuk ketergantungan psikologis terhadap pujian sebagai sumber harga diri utama.
Validasi Internal sebagai Pilar Pengasuhan
Sebagai gantinya, validasi internal perlu diperkenalkan sejak dini melalui komunikasi yang membangun logika dan empati. Misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Kamu bekerja keras hari ini, bagaimana perasaanmu tentang itu?”
Kalimat seperti ini membantu anak mengenali dan mengevaluasi usahanya sendiri. Dengan cara ini, anak belajar memaknai keberhasilan dari dalam dirinya, bukan dari pujian eksternal.
Peran Konsistensi dan Keteladanan Orang Tua
Konsistensi dalam memberikan umpan balik juga menjadi faktor penting dalam pembentukan karakter anak. Orang tua perlu menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti kerja keras, kesabaran, dan empati adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang realistis dan suportif akan lebih mudah mengembangkan identitas diri yang stabil. Hal ini berperan besar dalam mencegah terbentuknya kepribadian narsistik yang patologis.
Mengapa NPD Perlu Diwaspadai Sejak Dini
Dampak Jangka Panjang NPD terhadap Fungsi Sosial
Seseorang dengan NPD cenderung mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan interpersonal yang sehat. Mereka kerap memiliki ekspektasi tinggi terhadap orang lain, namun rendah dalam menunjukkan empati dan toleransi.
Dalam konteks sosial, individu narsistik bisa memicu konflik, manipulasi, dan kegagalan kerja sama. Oleh karena itu, penting untuk mengenali akar gangguan ini sejak fase perkembangan anak.
NPD Bukan Sekadar Sifat, Melainkan Gangguan Kepribadian
Penting dipahami bahwa NPD merupakan diagnosa klinis yang memerlukan penanganan profesional. Gejalanya tidak selalu tampak jelas di usia muda, tetapi benih-benihnya bisa terbentuk sejak masa kanak-kanak.
Faktor lingkungan pengasuhan, terutama pola pujian yang tidak seimbang, bisa menjadi pemicu utama. Maka dari itu, orang tua perlu lebih reflektif dalam setiap interaksi emosional dengan anak.
Konsultasi dan Intervensi Dini sebagai Tindakan Pencegahan
Apabila orang tua mencurigai adanya pola perilaku narsistik pada anak, sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog. Intervensi sejak dini bisa membantu mengembalikan keseimbangan emosional dan sosial anak.
Terapi berbasis kognitif dan pendekatan keluarga sering kali efektif dalam membentuk kembali pola pikir dan hubungan interpersonal. Pencegahan jauh lebih efektif dibanding mengobati gangguan kepribadian yang telah terbentuk.

